Prinsip 1 : Pemimpin Gereja dipanggil dan ditetapkan oleh
Allah. Dari Perjanjian Lama sampai Perjanjian baru, Alkitab
mengggariskan bahwa pemimpin umat Tuhan adalah dipanggil dan ditetapkan
oleh Allah :
• Musa dan Yosua (Kel. 3:10, Yosua 1:1-3)
• Saul dan Daud (I Sam. 16:12-13)
• Rasul-rasul (Mark 3:13-18)
• Lima Jawatan Gereja (Ef. 4:11-13)
• Penatua-penatua dan penilik-penilik di jemaat-jemaat lokal (Kis. 14:23, 20:28).
Alkitab menerapkan bahwa pemerintahan gereja bersifat teokratis.
Bukan otokratis, bukan birokratis dan bukan pula demokratis. Dalam
sistim teokrasi, Allahlah yang memilih, memanggil dan memperlengkapi
orang-orang tertentu menjadi pemimpin dan pemerintah bagi umatNya. Tuhan
juga yang mendelegasikan suatu ukuran otoritas kepada para pemimpin
gereja, sesuai kehendakNya, dan untuk melaksanakan tugas-tugas, serta
mencapai tujuan-tujuan, dalam kerangka rencanaNya. Para pemimpin gereja
adalah pengabdian memenuhi panggilan, karena itu pemimpin gereja
bukanlah suatu profesi, tetapi panggilan pelayanan. Dalam gereja Tuhan
di Perjanjian Baru, Yesus Kristus adalah Kepala Gereja — Gereja atau
Jemaat adalah Tubuh Kristus (Efesus 1:22-23) Yesus menjadi pusat atau
sentra gereja (Wahyu 5:6, 1:13). Dia, Kepala dari Gereja – yaitu jemaat
yang lintas suku, kaum, bahasa, bangsa, denominasi, segmen dan strata
masyarakat. (Galatia 3:28). Gereja yang universal dari semua penjuru
dunia ini. (Matius 16:18). Sebagai pelaksana kepemimpinannya dalam
gereja universal, Tuhan mendelegasikan fungsi-fungsi kepemimpinan
kepada: Rasul-rasul, Nabi-nabi, Penginjil-penginjil, Gembala-gembala,
Pengajar-pengajar. (Efesus 4:11). Masing-masing dengan pelayanan khusus.
Namun semuanya meraih suatu sasaran : dunia yang diinjili dan gereja
yang bertumbuh menjadi sempurna (Efesus 4:12-16), Matius 28:18-20).
Dalam gereja lokal ditetapkan penatua-penatua (presbuteros) dan penilik
jemaat (episkopos). Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul menetapkan
penatua-penatua (Kisah 14:23, Titus 1:5-9). Paulus juga menyebut penilik
jemaat (Kisah 20:28, Filemon 1:1, I Timotius 3:1-7). Juga ada diaken
(diákonos) yang menjadi pembantu pimpinan (Kisah 6:4-6, I Timotius
3:8-13). Rasul Yohanes mengaku dirinya sebagai penatua (II Yohanes 1:1,
III Yohanes 1:1). Rasul Petrus juga (I Petrus 5:1). Dalam organisasi
gereja, terdapat juga para pemimpin struktural seperti dalam GPdI. Sifat
kepemimpinan dalam organisasi adalah pemimpin atas pimpinan, seperti
pimpinan atas gembala-gembala. Dan gembala-gembala sebagai pimpinan
jemaat lokal. Karena penetapan pemimpin dalam organisasi menurut
konsensus, dipilih dari antara pimpinan (para gembala, pengajar atau
penginjil), menurut aturan yang telah disepakati, dan tetap berlandaskan
Firman Allah.
Prinsip II : Pemimpin harus diurapi Roh Kudus. Dalam Perjanjian Lama
jawatan strategis pada umat Israel yaitu Raja, Imam dan Nabi, dilantik
atau disahkan dengan cara pengurapan minyak. Dalam Perjanjian Baru
minyak urapan adalah metáfora untuk Roh Kudus. Yesus Kristus, Kepala
Gereja, menjadi contoh. Ia diurapi dengan Roh Kudus dan kuat kuasa
(Kisah 10:38). Rasul-rasul harus menunggu di Yerusalem untuk menerima
Roh Kudus (Kisah 2:1-4). Paulus juga mengalami pengurapan yang sama
untuk panggilannya (Kisah 9:17). Diurapi dengan Roh Kudus dan Kuasa,
menurut hemat saya, bukan sekedar pengalaman kepenuhan Roh Kudus dengan
tanda bahasa roh, melainkan juga pengurapan khusus untuk misi atau tugas
khusus, seperti Yesus (Kisah 10:38, Matius 3:16-17). Roh Kudus
mengaruniakan kuasa dan kesanggupan (dunamis Kisah 1:8) kepemimpinan,
baik kemampuan intelektual maupun spiritual. Pengurapan harus
dipelihara, harus proaktif, harus aktual dan selalu dibaharui. Pemimpin
gereja mutlak memerlukan pengurapan Roh Suci, sebagai keabsahan
pelayanannya.
Prinsip III : Pemimpin harus jadi Teladan dan Contoh. Seorang
pemimpin gereja wajib menjadi teladan atau contoh (Ibrani 13:7, I
Timotius 1:16, 4:12, I Petrus 5:3). Banyak pemimpin adalah ahli – dan
seharusnya demikian. Juga banyak yang pandai bicara – dan itu juga satu
talenta yang baik. Namun, lebih penting, bahwa ia dapat menjadi contoh
dalam semua hal yang diajarkannya. Pemimpin dalam Alkitab adalah seorang
yang berjalan di depan dan domba-domba mengikut dari belakang. Dalam
perang modern dewasa ini, para jenderal memegang komando dari markas
komando, menentukan strategi, sasaran serangan, Namun tidak lagi berada
di medan tempur barisan depan. Dalam strategi Tuhan, pemimpin harus
berada di barisan depan. Memberi komando dan diikuti anak buah. Ia
menjadi sasaran terdepan dari musuh. Ingatlah disamping harus menjadi
teladan dalam unsur-unsur Illahi seperti iman dan kasih, dalam soal
moral : kekudusan pernikahan. Tak kalah pentingnya soal karakter :
tingkah laku, sopan-santun, tidak angkuh, dlsb. Dalam hal integritas
yakni moral kejujuran, pengabdian. Dan kredibilitas : dapat dipercaya,
teguh dalam prinsip. Di samping semua itu, pemimpin juga disorot
kehidupan pribadinya, perkawinannya, rumah tangganya, anak-anaknya, dll.
Sebagai pemimpin teladan, kita menjadi panutan yang transparan. Anggota
melihat kita, memperhatikan kita dan mencontoh kita. Seorang pemimpin
ialah pengatur (proistemi), yang berarti berdiri di hadapan memimpin,
mengatur, mengarahkan dengan praktek.
Prinsip IV : Pemimpin Rohani harus memiliki stándar Moral dan
Karakter. Harus hidup Kudus. Kalau kita membaca kualifikasi seorang
penatua atau penilik jemaat dalam I Timotius 3:1-7dan Titus 1:5-9,
bagian terbesar dari persyaratan pemimpin rohani adalah moral dan
karakter. Kemurnian, kesalehan dan kekudusan adalah prinsip dasar dari
para pemimpin rohani. Kehidupan nikah, pengelolaan keuangan,
pengendalian temperamen, pembinaan rumah tangga, sifat perilaku,
percakapan, dlsb. menjadi unsur-unsur penting pembinaan moral dan
karakter. Rasul Paulus mengingatkan para pemimpin : “jagalah dirimu”
kemudian baru “jagalah seluruh kawanan” (Kisah 20:28). Itu sebabnya
sering dikatakan bahwa pemimpin rohani harus berkarakter, harus memiliki
integritas. Kebiasan-kebiasaan buruk acap kali kita kategorikan sebagai
“kelemahan manusiawi” dan dianggap sah-sah saja. Padahal kemurnian
moral dan karakter tidak boleh kita anggap hal lumrah sebab Kemurnian
moral atau “bejana yang bersih” sangat menentukan karya pengurapan Roh
Kudus. Di zaman sekarang, terasa sekali betapa sulitnya hidup kudus.
Godaan uang, pergaulan, kehidupan enak, kedudukan, kehormatan, godaan
film dan literatur, keterbukaan soal-soal seksual, membenarkan dusta,
dll tidak luput menghadang para pemimpin rohani. Tetapi pegangan kita
tidak boleh bergeming : “hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh
hidupmu seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu”. (II Petrus
1:15).
Pemimpin yang dipanggil oleh Tuhan harus memiliki hidup kudus,
dan jangan terkena pencemaran (Roma 12:1,2, I Korintus 6:19-20, I
Petrus 2:6, 2 Korintus 6:12-16).
Prinsip V : Pemimpin gereja harus memiliki VISI. Harus visioner. Para
pemimpin gereja pada zaman “paling akhir” yang luar biasa ini, yang
ingin menjadi mitra Tuhan dalam pembentukan tubuh Kristus, dalam
penginjilan Global, harus merupakan pemimpin-pemimpin visioner. Abad 21
sudah di depan kita, abad dengan sebutan era globalisasi. Karenanya,
para pemimpin dunia selalu dianjurkan memiliki visi global. “Bila tidak
ada wahyu (vision), menjadi liarlah rakyat”. (Amsal 29:18). Umat yang
tidak memiliki pemimpin visioner akan salah arah atau berputar-putar di
tempat – tidak maju walaupun tidak mundur. Seorang pemimpin dari Tuhan
harus memiliki visi, juga dari Tuhan, seperti Abraham (Kejadian 12:1-3).
Visi adalah suatu pandangan rohani yang jauh ke depan, menjangkau
hal-hal yang besar, dahsyat, ajaib, tidak mungkin dan mustahil. Visi
adalah pandangan iman, yang tak terbatas indra mata dan kadar
intelegensia. Visi berhubungan erat dengan iman (II Korintus 5:7, Efesus
1:18-20, 3:20) dan dengan rencana Tuhan ( I Korintus 2:9, Ayub 42:2).
Visi dapat diperoleh dari Firman Tuhan dan dari Roh Kudus. Pemimpin
gereja minimal harus memiliki 4 visi strategis ini :
1. Visi
globalisasi Injil (Markus 16:15, Matius 28:18-20, Kisah 1:8, Roma 1:5,
Matius 24:14, Wahyu 5:9) dan pekabaran Injil lintas budaya.
2. Visi Gereja Tubuh Kristus (Efesus 4:12,16) mempelai Kristus (Efesus 5:23-25) dan visi gereja lintas denominasi.
3. Visi Gereja Lokal dan pertumbuhan gereja lokal (Kisah 20:28, Kisah 14:23).
4.
Visi Karya Roh Kudus Akhir Zaman (Kisah 2:17-19), yang lintas dan di
atas segala-galanya (Kisah 2:17-19). Visi global, walaupun ruang lingkup
pelayanan kita lokal. Untuk mengimplementasikan visi, pemimpin harus
mengembangkan dan menggunakan strategi. Strategi mencakup pertumbuhan
pelayanan, peperangan rohani dan persekutuan atau kebersamaan. Seorang
pemimpin haruslah seorang visioner.
Prinsip VI : Pemimpin harus memiliki Pengetahuan dan rajin belajar.
Harus memiliki kemampuan intelektual. Raja Salomo adalah pemimpin yang
berdoa kepada Tuhan memohon hikmat dan pengetahuan. (II Tawarikh 1:10).
Dalam buku Amsal kita dapat membaca betapa substansialnya Hikmat dan
Pengetahuan. Nabi Hosea menulis : Umatku binasa karena tidak mengenal
Allah (My people are destroyed for lack of knowledge. Hosea 4:6). Kalau
umat Tuhan dibinasakan karena kurang pengetahuan, apalagi para
pemimpinnya. Hikmat (wisdom) atau Kearifan dan kebijaksanaan hanya kita
peroleh dari Tuhan. Pengetahuan dapat kita miliki karena belajar dari
Alkitab (I Timotius 3:15), belajar dari orang-orang lain, belajar dari
buku-buku dan belajar dari sumber informasi lainnya. Pemimpin harus
rajin belajar. Pelayan Tuhan, para gembala, pendeta, harus rajin belajar
dari orang lain (Amsal 27:17, Pengkhotbah 10:10). Zaman ini adalah era
informasi. Zaman ini adalah abad ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan dunia kita dalam bidang IPTEK maju secara mencengangkan.
Perubahan-perubahan dahsyat terjadi karena revolusi iptek. Pemimpin
rohani harus mengantisipasi hal ini, karena banyak teologi sudah rancu
karena pengaruh filsafat manusia. Seorang pemimpin harus memiliki
kemampuan intelektual.
Prinsip VII : Kepemimpinan Rohani adalah Kehambaan, Pengabdian dan
Pengorbanan. Pemimpin adalah Pelayan. Kepemimpinan gereja adalah
pengabdian (I Petrus 5:1-3), dan bukan untuk cari uang dan jabatan.
Godaan kedudukan adalah salah satu kejatuhan utama para hamba Tuhan.
Kepemimpinan rohani bukanlah bergaya majikan, boss atau direktur
perusahaan. Pemimpin wajib memiliki hati hamba dan sifat pelayan
(Yohanes 13:4-17, Markus 9:35). Para pemimpin harus berjiwa pelayan.
(Efesus 6:6-8). Pemimpin adalah PELAYAN. (Lukas 22:26), dan Yesus,
pemimpin agung kita berfungsi sebagai pelayan (Lukas 22:27).
Kepemimpinan gereja adalah pengorbanan. Model kepemimpinan kita adalah
Yesus Kristus. Para pemimpin sendiri disebut : hamba Tuhan. Jadi,
majikannya ialah Tuhan sendiri. Para pemimpin harus bergantung total
kepada Tuhan, bukan kepada manusia, kekuatan uang, ekonomi, politik,
atau sikon.
Prinsip VIII : Pemimpin harus bekerja keras, rajin berdoa dan
berprestasi baik. Para penatua yang baik dan bekerja keras patut
dihormati (I Timotius 5:17). Mereka harus orang-orang yang rajin, tidak
malas (Roma 12:8). Para pemimpin harus merupakan sosok yang rajin
berdoa, rajin melayani, rajin mengajar Firman dan bekerja sekerasnya
untuk pertumbuhan gereja dan penyebaran Injil. Bekerja keras berarti
juga disiplin dan tidak cengeng. Pemimpin gereja harus berprestasi baik,
barulah beroleh kedudukan yang baik (I Timotius 3:13).
Prinsip IX : Pemimpin mampu berkomunikasi. Pemimpin adalah
komunikator. Salah satu kelemahan para pemimpin gereja yang dapat
menghambat keberhasilan pelayanannya adalah kekurangmampuan untuk
berkomunikasi. Komunikasi merupakan unsur penting dalam kepemimpinan.
Pernyataan rasul Paulus : “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan
hati semua orang dalam segala hal….” (I Korintus 10:33) ; menunjukkan
kemampuannya yang besar sekali dalam berkomunikasi. Komunikasi bukan
sekedar kemampuan berbicara, tetapi kesanggupan melakukan kontak-kontak,
melalui beraneka ragam cara. Kehidupan kita dalam suatu masyarakat,
apapun segmennya, stratanya atau kelompoknya, mengharuskan kita
berkomunikasi, mengarahkan kita untuk mengembangkan dan membina relasi.
Allah lebih dahulu berkomunikasi dengan kita, bahkan Ia berusaha selalu
mengadakan komunikasi dengan manusia, sejak di taman Eden, dan puncaknya
melalui Yesus, serta kini dengan Firman dan Roh Kudus. Komunikasi kita
yang pertama, harus secara kontinyu dengan Tuhan, lewat doa, pujian,
penyembahan, berkorban. Kedua, dengan orang-orang yang kita layani.
Ketiga, dengan orang-orang luar. Sebagai gembala kita harus mampu
berkomunikasi dengan jemaat, apakah itu secara individu dan berkelompok.
Kita harus mampu berkomunikasi dengan keluarga sendiri, dengan
lingkungan, dengan masyarakat, dengan Pemerintah. Kita harus
berkomunikasi lewat khotbah, ceramah, pelajaran dan pelayanan lainnya.
Prinsip X : Pemimpin musti Siap menghadapi Tantangan dan Menghadapi
konflik. Pemimpin harus memiliki Solusi. Seorang pemimpin rohani harus
memiliki kemampuan memanfaatkan peluang-peluang yang ada, dan siap
menghadapi tantangan-tantangan yang menghadang. Para pemimpin gereja di
zaman modern ini harus memiliki risiko tantangan-tantangan yang canggih
pula. Tantangan terdiri dari banyak jenis. Saya hanya utarakan beberapa
butir yang aktual saja.
• Tantangan dari godaan keinginan duniawi. (I Yohanes 2:16)
- berkat material / kemakmuran.
- kedudukan / kehormatan.
- uang / kemewahan.
- kesuksesan / keangkuhan
- seks / problema keluarga
• Tantangan dari sikon dunia dengan “penguasanya” (I Yohanes 5:19, II Timotius 3:1-5)
- kekuatan moneter ekonomi
- kekuatan sosial politik
- kekuatan bersenjata
- kekuatan agama-agama
- kekuatan okultisme
- kekuatan kultur (budaya)
- kekuatan massa
- kekuatan kompromi
- kekuatan tekanan
- kekuatan penekan ekonomi (kemiskinan).
• Tantangan dari diri sendiri (Kisah 20:28)
- egoisme
- tidak terpanggil / tidak terbeban
- tidak memiliki kepemimpinan yang Alkitabiah
- tidak memilki semangat / keberanian
- tidak ada visi
- cengeng – apabila ada kesulitan
- problema keluarga
• Tantangan dari Jemaat dan orang luar
- kritik, kecaman, protes
- konflik
- kompetetif antar gereja
Tantangan harus dihadapi, dilawan, diatasi dan
dibereskan/diselesaikan. Seorang pemimpin jangan mengelak atau lari dari
tantangan. Tidak ada pilihan : harus siap menghadapinya, harus temukan
solusinya. Strategi dalam menghadapi setiap tantangan, ialah :
• Koreksi diri sendiri (mawas diri)
• Lakukan peperangan rohani :
- Musuh kita : IBLIS dan aparaturnya.
- Doa dan Puasa
- Arif, Bijaksana, Cerdik
- Jangan berkelahi atau bersaing!
- Yesus sudah menang, kita adalah anak-anak dan pelayan-pelayan Yesus.
- Roh Kudus pembela dan penolong kita.
• Jangan menyendiri, galang kebersamaan.
Prinsip XI : Pemimpin harus bersemangat. Pemimpin bermental
kemenangan. “Tuhan menggerakkan semangat Zerubabel bin Sealtiel, bupati
Yehuda, dan semangat Yosua bin Yosadak, imam besar…..” (Hagai 1:14).
Rupanya gangguan semangat yang memudar juga dapat mengganggu para
pemimpin. Umat Tuhan di zaman nabi Hagai luntur semangat mereka untuk
membangun rumah Tuhan, sampai-sampai Zerubabel dan Yosua ketularan,
sehingga Tuhan membangunkan kembali semangat mereka untuk melanjutkan
pekerjaan. “Siapa akan memulihkan semangat yang patah?” (Amsal 18:14),
karena “semangat yang patah mengeringkan tulang” (Amsal 17:22). Dan
Tuhan sanggup memulihkan semangat (Yesaya 57:15). Dalam situasi dan
suasana apapun, Pemimpin gereja harus menunjukkan bahwa semangat mereka
tidak kendor. Gereja dalam kancah krisis memerlukan pimpinan yang
konsisten dengan semangat yang tinggi. Semangat datang dari Tuhan
melalui:
- doa & penyembahan, puji-pujian
- Firman dan kesaksian-kesaksian
- Kebangunan rohani / karya Roh Kudus
Pemimpin memiliki semangat menyala-nyala. (Roma 12:11)
Prinsip XII : Pemimpin harus didoakan. Pemimpin rohani didukung Tim
Doa. Para pemimpin gereja adalah manusia biasa. Mereka bukanlah
“Superman”. Mereka dapat letih, lemah, sakit, luka batin, stress dan
jenuh. Mereka harus disokong secara moral dan spiritual. Mereka harus
ditopang dengan doa syafaat. Doakan para pemimpin gereja! Rasul Paulus,
seorang pemimpin yang dipakai Tuhan secara istimewa dan luar biasa,
dengan jujur menulis beberapa kali memohon, agar ia didoakan. (Efesus
6:19, Kolose 4:3, Ibrani 13:18). Kita wajib mentaati dan memiliki roh
penundukan kepada pimpinan. (Ibrani 13;17). Mereka yang bekerja keras
juga harus dihormati (I Timotius 5:17). Tetapi yang terpenting, kita
harus mendoakan mereka. Sebab setiap pemimpin rohani yang sukses,
berarti di belakangnya ada pasukan doa yang sedang menyokong. Para
Pelayan/Pemimpin rohani harus terlibat dalam persekutuan doa dan puasa.
Harus ada “back-up” dari para pendoa syafaat.
Penutup. Gereja memerlukan pemimpin-pemimpin. “Jikalau tidak ada
pemimpin, jatuhlah bangsa” (Amsal 11:14). Gereja tidak akan bertumbuh
mencapai kedewasaan, tanpa kepemimpinan (Efesus 4:11-16). Gereja yang
tengah bertumbuh dan bergumul dalam dunia yang penuh goncangan dan
krisis, memerlukan pimpinan yang solid, yang kekuatannya bertumpu pada
asas-asas kepemimpinan yang Alkitabiah. Kita merindukan gereja yang
menang dan sukses, berarti gereja yang memiliki kepemimpinan bervisi
tajam, bermotivasi dasar yang benar, dengan strategi yang diarahkan oleh
Firman dan Roh Kudus, serta paling penting : dalam otoritas Kepala
Gereja : Tuhan Yesus Kristus (Efesus 4:16). Kita menantikan gereja yang
tak ada cacat, kerut, atau cela ; gereja yang suci, cemerlang, dan
gemilang. Gereja sempurna : pengantin Kristus. Haleluyah! (dari website
GPdI Maranatha, Medan).